RSS

Arvan pradiansyah said

Ada lima hal yang membuat kita tidak bahagia,
menurut Arvan pradiansyah yaitu:

Pertama, adanya keyakinan bahwasannya anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap, dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi anda masih merasa kurang. Anda akan merasa lebih bahagia kalau memiliki lebih banyak uang, rumah lebih besar, mobil lebih bagus dan sebagainya. Pikiran anda dipengaruhi oleh benda-benda yang anda kira dapat membahagiakan anda. Padahal, anda tidak bahagia karena lebih memusatakan perhatian pada segala sesuatu yang tidak anda miliki, dan bukannya pada apa yang anda miliki sekarang ini.

Kedua, anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang apabila anda berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan anda tidak memperlakukan anda dengan baik. Kepercayaan itu salah. Anda perlu menyadari bahwasannya mengubah orang lain. Bukannya berarti anda harus menyerah, silahkan anda teruskan berusaha untuk mengubah orang lain. Namun jangan tempatkan kebahagiaan anda disana. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang disekitar anda membuat anda tidak bahagia. Kalau anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu anda ubah adalah diri anda sendiri, paradigm anda.
Ketiga, keyakinan bahwa anda akan bahagia kalau semua keinginan anda terpenuhi. Padahal keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustasi, cemas, gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan anda tersebut paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.
Keempat, anda tak bahagia karena anda cenderung membanding-bandingkan diri anda dengan orang lain. Seorang eksekutif yang berkali-kali pindah kerja hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih besar dari dirinya. Karena itu setiap ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah itu dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan kawannya. Ia pun tidak perduli harus berganti karir dan pindah kebidang lain. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya mengejar sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi mengenai penghasilan sahabatnya.
Kelima, anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi pepatah “bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Kapan anda akan bahagia? “nanti, kalau sudah jadi manager,”. Kata anda. Persoalannya, pada saat anda menjadi manager anda tambah sibuk, waktu anda tambah sempit. Saya akan bahagia kalau sedah menjadi direktur, dirjen, gubernur, mentri, atau presiden. Nah daftar tunggu itu masih dapat terus diperpanjang. Tapi anda juga tak bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan?”. Kebahagiaan telah anda letakkan di tempat yang jauh. Padahal sebenarnya kebahagian berada sangat dekat dan dapat anda nikmati disini, sekarang ini juga!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar