Bahagia ....?
Siapa sih yang tidak ingin bahagia. Semua orang pastilah ingin mencapai kebahagiaan yang ia damba-dambakan, yang ia inginkan, yang ia harapkan untuk mencapai puncak kesuksesan. Namun sampai sekarang ini apakah anda sudah paham betul arti dari sebuah kebahagiaan itu. Ada orang yang mengatakan kebahagiaan adalah usaha yang telah ia lakukan dan memberikan hasil yang sepadan dengan usahanya itu. Dan Bapak Ari Ginanjar pakar ESQ 165 membagi kebahagiaan itu menjadi 3 macam.
Siapa sih yang tidak ingin bahagia. Semua orang pastilah ingin mencapai kebahagiaan yang ia damba-dambakan, yang ia inginkan, yang ia harapkan untuk mencapai puncak kesuksesan. Namun sampai sekarang ini apakah anda sudah paham betul arti dari sebuah kebahagiaan itu. Ada orang yang mengatakan kebahagiaan adalah usaha yang telah ia lakukan dan memberikan hasil yang sepadan dengan usahanya itu. Dan Bapak Ari Ginanjar pakar ESQ 165 membagi kebahagiaan itu menjadi 3 macam.
1. Kebahagiaan secara fisik.
Kadang kita hidup di dinia ini begitu terkena sehingga kadang kita lupa dengan tujuan kita yang abadi yaitu hidup kekal di akhirat dengan bahagia. Banyak sekali manusia hanya demi memuaskan perutnya dia berani korupsi, manipulasi, dan masih banyak lagi hal-hal yang negatif ia pergunakan sebagai cara. Memang kalau kita melihat secara finansial kita akan bahagia tetapi kalau kita mau mentelaah lebih dalam apakah kebahagian itu akan abadi. Pasti anda akan mengatakan tidak. Mungkin setelah anda korupsi sebulan, dua bulan anda masih bisa menikmati kecurangan yang anda lakukan. Steven covey dalam buknya 7 kebiasaan remaja yang sangat efektif memaparkan sbenarnya kebahagiaan yang kekal dan abadi adalah ketika kita menggantungkan kebahagiaan itu kepada sebuah prinsip atau natural law. Sebuah prinsip akan menggiring pengikutnya kepada sebuah kebaikan, kejujuran, loyalitas, keterbukaan, kedisiplinan, dan masih banyak lagi efek positif yang akan dipancarkan oleh sebuah prinsip. Kalau kita mengambil contoh korupsi itu termasuk pelanggara sebuah prinsip kejujuran. Kata orang bijak” apa yang terjadi pada sekitar kita atau lingkungan kita akan kembali pula kepada kita”. Jadi ketika melakukan sebuah kebohongan bukannya kita akan terbebas begitu saja. Akan tetapi kebohongan itu akan membalas dan menunggu waktu yang tepat untuk kembali membalas. Pada intinya adalah kebahagiaan bukan berapa banyak yang telah kita dapatkan melainkan berapa banyak yang telah kita berikan. Karena kita terlahir didunia ini bertugas menyampaikan sifat-sifat Asma’ul Husna.
2. Kebahagiaan secara emosional.
Semua orang juga ingin mendapatkan pangkat, kedudukan, jabatan dan keberhasilan yang telah kita dapatkan. Namun tak sedikit pula ketika kita mencapai puncak kesuksesan selalu ingin mendapatkan pengakuan kalau kita no 1 dibidang ini, kalau aku sudah mendapatkan gelar misal S1,S2 dan S3. Namun yang lebih parahnya adalah ketika kita memanipulasi kedudukan, jabatan, atau pangkat yang kita dambakan. Kita ambil contoh saja ada orang A yang sangat menginginkan menjadi seorang polisi. Dia dengan mudah membeli semua perlengkapan seperti seragam, pistol de el el. Pola pikir instan inilah yang perlu kita buang jauh-jauh. Apakah dengan pakaian polisi lengkapa orang A akan merasa bahagia yang abadi? Tentu saja tidak. Orang yang dengan susah payah mendapatkan jabatan sebagai polisi saja masih belum pernah merasa bersyukur. Dia pasti akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan jabatan yang ia dambakan. Karena pada dasarnya manusia itu adalah manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ia dapatkan. Jadi buat apalah kita mencari pengakuan yang tidak abadi seperti contoh tadi diatas dengan memanipulasi jabatan yang kita inginkan. Pada akhirnyapun kita akan merasa merugi dengan perbuatan konyol kita dan tentunya akan mendapatkan balasan yang buruk juga karena kita melanggar prinsip atau natural law.
3. Kebahagiaan spritual.
Kebahagiaan inilahyang melengkapi kedua bahagia diatas. Meskipun kita hidup di dunia ini tidaklah mungkin tidak membuthkan rumah untuk tinggal atau istri yang selalu mengisi kekosongan suasana hati kita. Tapi kadang kita lupa kalau hidup didunia ini hanyalah sebagai ladang untuk mengumpulkan bekal di akherat kelak.Namun bukan itulah tujuan kita hidup didunia ini. Sebagaimana firman allah dalam Al-Qur’an yang intinya kita hidup harus seimbang baik hidup didunia ataupun menyiapkan bekal di akhirat kelak. Kebahagiaan spiritual ini sangat berlawanan denga kebahagiaan yang pertama. Kalau kebahaiaan fisik kita mengumpulkan harta sebanyak mungkin setelah itu kita menikmati hasil usaha kita, namau kebahagiaan spiritual adalah ketika kita mengumpulkan harta dengan sesah payah kita akan membagikan harta kita karena pada dasarnya kita hidup di dunia ini bertugas menyampaikan sedangkan allah lah yang memberikan.







0 komentar:
Posting Komentar