arena martabat manusia melarang dirinya untuk dijadikan sarana, menjadi alat dalam sebuah proses pekerjaan, direndahkan menjadi sarana produksi. kapasitas untuk bekerja bukanlah segalanya; dia juga bukan landasan yang cukup atau hakiki untuk sebuah kehidupan yang bermakna. seorang manusia bisa mampu bekerja dan tetap tidak menjalani kehidupan yang bermakna; dan yang lain bisa tidak mampu bekerja dan tetap memberikan makna kepada kehidupannya.
yang mengancam manusia masa kini adalah pernyataan tanpa bukti tentang adanya makna dalam hidupnya, atau, saya menyebutnya kehampaan eksitensial didalam dirinya. dan kapan kehampaan ini mengemuka, kapan kehampaan yang kerap bersembunyi ini mewujud? saat manusia sedang bosan!
hidup tidak terjadi begitu saja pada kita!
pada akhirnya, manusia tidak seharusnya bertanya tentang arti hidupnya,sebaliknya ia harus lebih menyadari bahwa dirinyalah yang ditanya. pendeknya, setiap manusia ditanyai oleh kehidupan. dan ia hanya bisa menjawab kehidupan dengan mempertanggung jawabkan hidupnya sendiri. kepada kehidupan ia hanya bisa merespons dengan tanggung jawab.
namun, sebagai fenomena manusia, kebebasan sangatlah rentan. kebebasan manusia adalah kebebasan yang terbatas. manusia tidak bebas dari sejumlah kondisi. namun, ia bebas untuk mengambil sekap terhadap mereka. kondisi-kondisi tersebut tidak sepenuhnya mengkondisikan dia. dalam batasan-batas tertentu, dialah yang menentukan apakah dia akan mengalah dan menyerah pada kondisi-kondisi tersebut. dia bisa bangun mengatasi kondisi-kondisi tersebut dan dengan melakukan itu membuka dan memasuki dimensi manusia. ...pada akhirnya, menusia tidak tergantung pada kondisi-kondisi yang dihadapinya. sebaliknya, kondisi-kondisi itulah yang bergantung pada keputusan-keputusannya. sadar atau tidak, manusia memutuskan apakah akan menghadapiny atau menyera, apakah ia akan detentukan oleh kondisi-kondisi itu atau tidak.
sebelum ada jaminan 100 persen bahwa akau akan dibunuh di sini, di tempat ini, bahwa aku tidak akan mampu keluar hidup-hidup dari kamp konsentrasi ini didalam sisa hidupku, sebelum jaminan itu ada, aku masih bertanggung jawab mulai detik ini untuk hidup sedemikian rupa sehingga aku menggunakan setiap peluang untuk bertahan hidup, dengan mengabaikan bahaya besar diseputarku dan di semua kamp lain ketempat mana aku dikirimkan. ini, pada hakekatny adalah cara, bukan mekanisme untuk mengatasi masalah. rumus mengatasi masalah yang kuterapkan, yang kunjung, saat ini.
....labirin-labirin makna....
aku ingin menekankan bahwa makna hidup yang sesungguhnya harus ditentukan di dunia bukan di dalam diri dam jiwa manusia, seolah-olah itu adalah sebuah sistem yang tertutup.
penentangan terhadap niat merupakan kebalikan dari bujukan, karena ia tidak meminta kepada si pasien untuk begitu saja menekan ketakutan- ketakutannya (dengan penjelasan masuk akal bahwa itu tidak berdasar ), tetapi sebaliknya, mengatasi mereka dengan membesar-besarkan semua ketakutan tersebut!
tidak ada seekor semutpun, tidak ada seekor lebahpun, tidak ada seekor binatangpun yang akan pernah menanyakan apakah eksistensinya memiliki makna, tetapi manusia menanyakannya. dia berhat peduli tentang makna eksistensinya. ia bukan sekedar mencari makna itu, tetapi berhak atas itu..... lagi pula, itu merupakan tanda dari kejujuran dan ketulusan intelektual.
kan tetapi, makna tanpa syarat harus disertai nilai tanpa syarat dari setiap dan semua orang. itulah yang menjamin kualitas permanen dari martabat seseorang. seperti halnya hidup yang tetap berpotensi untuk memiliki banyak makna dalam kondisi apa pun, bahkan pada kondisi yang paling menydihkan. nilai dari setiap dan semua orang pun akan selalu menjadi miliknya.
keselamatan manusia adalah melalui cinta dan didalam cinta. aku mengerti bagaimana seorang manusia yang sudah tidak memiliki apa pun di dunia ini, masih bisa mengenal kebahagiaan meskipun hanya sekejap, dengan orang yang dicintainya.
sudah waktunya untuk masuk kedalam batin, menatap kepada diriku sendiri. sudah waktunya untuk memanfaatkan waktu yang tersisia. jeruji penjara khayalan tidak kalah kukuh dengan jeruji baja. ( Rodney Crowell).
karakter CEO
-honest (jujur)
-forward looking (berpandangan jauh)
-inspiring (bisa memberi inspirasi)
-competent (kompeten)
-fair minded (adil)
-supportive (mendukung)
-broad minded (berpandangan luas)
-intelligent (cerdas)
-straighforward (terus terang)
-courageous (berani)
-bisa diandalkan
-bisa bekerja sama
-kreative (berdaya imajinasi)
-peduli kepada orang lain
-tegas
-matang
-berambisi
-loyal
-mampu mengendalikan diri
-independen
semua yang baik dan indah pada masa lalu sudah aman diawetkan pada masa lalu. sebaliknya, selama hidup masih berjalan, semua kesalahan dan kejahatan masih "dapat ditembus".... ini bukan film yang sudah jadi....atau sebuah film yang sekedar sedang diputar ulang. sebaliknya, dunia yang satu ini sedang "dibuat". artinya, tidak lebih dan tidak kurang, masa depan "untungnya" masih harus dibentuk; artinya, ia ada dibawah tanggung jawab manusia.
sadari keinginan anda untuk mencari makna manusia yang sadar akan tangung jawabnya terhadap seorang manusia yang nantinya dengan kasih sayang, atau terhadap pekerjaan yang belum selesai, tidak akan pernah bisa menyia-nyiakan hidupnya. ia tahu "alasan" untuk eksistensinya dan akan mampu mengatasi hampir semua "tantangan". kenyataanya, ketika perjuangan untuk bertahan hidup sudah sirna, pertanyaan ini mengemuka: perjuangan untuk apa? meskipun saat ini makin banyak orang yang memiliki sarana untuk hiup, mereka tidak memiliki makna untuk menjalani kehidupan.
mengapa aku sedih?mengapa aku cemas?mengapa aku tidak bisa mencintai? jawaban-jawabannya mungkin terletak jauh di bawah alam bawa sadar kolektif kita. rute menuju permukaan melewati ruang pasca-modern berisi cermin-cermin. perjalanan ini tampak menakutkan. dilain pihak itu merupakan penjelajahan yang layak dilakukan. pikiran itu sebagai upaya untuk mengungkap masalah kejiwaan yang sangat menarik dalam kehidupan anda sendiri (eksistensi terakhir dalam sebuah cerita detektif..... suka atau tidak suka, kita manusia terjebak dalam sebuah krisis makna yang permanen, sebuah ruang gelap dari mana kita tidak bisa bebas. pasca-modernisme menarik karpet filoson dari bawah kaki kita dan meninggalkan kita didalam kehampaan eksistensial.
kenyataanya, ketika perjuangan untuk bertahan hidup sudah sirna, pertanyaan ini mengemuka: perjuangan untuk apa? meskipun saat ini makin banyak orang yang memiliki sarana untuk hidup, mereka tidak memiliki makna untuk menjalani kehidupan.
di kamp-kamp konsentrasi....didalam laboratoriun hidup ini dan ditempat uji coba ini, kami mengamati dan menjadi saksi, bagaimana sebagian rekan kami menjadi babi, sementara yang lain menjadi nabi. manusia memiliki kedua potensi itu didalam dirinya; potensi mana yang mengemuka, bergantung pada keputusan dan bukan pada kondisi.
Pikiran positif datang dari kepercayaan, pikiran negatif datang dari keragu-raguan. Rasa takut yang benara adalah rasa takut yang digabungkan dengan harapan, karena itu lahir dari kepercayaan, serta kita berharap pada tuhan yang kita yakini. Sementasa rasa takut yang salah digabungkan dengan keputusan, karena kita takut kepada tuhan. Beberapa orang takut kehilanga-Nya. Sementara yang lain takut mencari-Nya. (Paskal).







0 komentar:
Posting Komentar